Angkat Isu Produksi Garam Tradisional di Bali, Mahasiswa Program Studi Doktor Sejarah FIB Undip Berhasil Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi

Mahendra Puji Utama, Mahasiswa Program Studi Doktor Sejarah (PSDS) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB UNDIP), bersama Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M.Si., Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., Noor Naelil Masruroh, M.Hum., dan Dr. Mujiburrahman Mujiburrahman, M.Hum, berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya pada jurnal internasional bereputasi, Cogent Social Sciences. Artikel tersebut berjudul “Ancient Communal Mode of Production of Sea Salt Commodity in Bali During Tourism Expansion“.

Mahendra Puji Utama bersama tim peneliti, mengangkat permasalahan tentang bagaimana sistem teknologi garam laut ini bertahan, bersinergi, dan terintegrasi dengan modus produksi kapitalis dewasa ini. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan etnografis dan sosiologis, memanfaatkan bukti dokumenter, riwayat hidup, dan focus group discussions.

Hasil penelitian menunjukkan, meskipun modus kapitalis yang merajalela, didorong oleh industrialisasi pariwisata, yang berdampak pada semua sektor kehidupan ekonomi Bali, produksi garam palung tradisional tetap bertahan dan bahkan berkembang. Fenomena tersebut disebutnya sebagai “good capitalism”.

Lebih lanjut, diidentifikasi faktor-faktor kunci yang memungkinkan modus produksi tradisional tersebut berkembang pesat berdampingan dengan sistem ekonomi kapitalis. Pertama, sistem teknologi garam palung menggabungkan nilai-nilai sosial budaya Bali dengan fondasi keagamaan yang kuat. Kedua, produk garam memiliki keunggulan yang selaras dengan kebutuhan dan citra masyarakat industri modern. Ketiga, terdapat sektor bisnis padat modal dalam industri garam laut, yang mencari keuntungan sekaligus melestarikan sistem pembuatan garam ini sebagai warisan sejarah dan budaya.

Di tengah modernitas pariwisata di Bali, hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal internasional bereputasi tersebut, memberikan kontribusi bagi pengembangan pengetahuan mengenai pengelolaan produksi garam tradisional di Bali, utamanya dalam aspek sejarah. Selain itu, berdasar sejarahnya, eksistensi garam tradisional memungkinkan peluang bagi pariwisata budaya, menarik perhatian terhadap warisan budaya dan mendukung ekonomi lokal melalui pariwisata berbasis warisan yang menawarkan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal sambil menghormati praktik tradisional.

Artikel selengkapnya dapat diakses pada https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/23311886.2025.2523074#d1e466

id_IDIndonesian